Kemauan, tekad, kreativitas, dan kegigihan adalah modal utama untuk membuka usaha. Selama masih ada kehidupan di muka bumi ini, selama itu pula selalu terbuka peluang untuk usaha.

Fatchur Rozi (30) tidak percaya dengan kekuatan sedekah. Tapi ia disadarkan oleh rekannya, bahwa setiap apa yang kita nafkahkan di jalan kebaikan, pasti akan mendapatkan balasan dari Allah SWT.

Dia memegang teguh prinsip tersebut. Dan itu terbukti, bisnisnya pun berkembang dengan pesat. Saat ini, ia tidak hanya mengelola sandal IMUCU (imut, lucu, dan unik). “Sejak bulan April 2010, kami membuka program CRS, untuk teman-teman yang blank masalah bisnis,“ katanya.

Program CSR itu direalisasikan dengan memberi motivasi dan modal 100% kepada siapa saja yang berminat membuka usaha. Ia juga membantu pembangunan masjid, pesantren, madrasah, dan masyarakat di kawasan Gunung Putri, Bogor. “Kami memang menyiapkan dana tersebut setiap bulan,“ terangnya.

Fatchur membangun bisnisnya berdasarkan prinsip kejujuran. Ketika mendapat pelanggan untuk pertama kalinya, ia berani mengatakan bahwa sandalnya belum diproduksi secara masif. Namun demikian, ada sekitar 10 orang yang dengan suka rela membayar di muka sebesar Rp 250 ribu.

Dengan modal kejujuran itu, alumni Universitas Muhammadiyah Malang 2004 ini, telah mendapatkan banyak pelanggan dan agen. Berdasarkan survei IMUCU tahun 2009, setidaknya ada sekitar 200 agen, serta 2.000 sub agen dan reseller, yang terbagi menjadi dua wilayah, Surabaya dan Jabodetabek.

Keutamaan itu bagi Pelopor

Sandal IMUCU bisa kategorikan sebagai pelopor sandal kreatif di Indonesia. Usaha ini bermula dari dua karyawan perusahaan swasta di Surabaya. Setelah silaturahmi, ternyata mereka telah memiliki usaha sendiri-sendiri. Keduanya “sombong” dengan usahanya. “Namun usaha itu tak bertahan lama, kami sama-sama merugi,“ keluhnya.

Kegagalan itu membawa berkah tersendiri. Mereka mengevaluasi diri, dan mulai menyadari karakter dan usaha yang cocok untuk dikembangkan. Ditambah lagi dengan adanya tekanan kewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarga, maka lahirlah sandal Imut, Unik, dan Lucu (IMUCU).

Pada awalnya, bapak dari Clarity Aiko Elfathritzi (3,5) dan Nasywa Bidiva Elfathritzi (1,5) ini, memesan sandal pada produsen di Malang. Namun, produsen tidak bisa memenuhi 300 sandal pemesanan pertamanya. Padahal, ia sudah telanjur janji kepada calon pelanggannya, yang sudah membayar di muka. “Ketakutan menghantui kami dan sempat berpikir akan masuk penjara mana nanti,“ kenangnya.

Kejadian itu tidak membuatnya gentar dan mundur, ia berinisiatif untuk menemui produsennya, dan minta izin memproduksi sandal itu secara mandiri. Setelah bernegosiasi, ia pun mendapatkan lisensi utama untuk wilayah Surabaya dan sekitarnya.

Pengalaman pertama mendapatkan pelanggan itu, ia dapatkan dari pameran franchise di Gramedia Expo, 4 April 2008 di Surabaya. Karena tak mampu membayar sewa stand sebesar Rp 30 juta, ia pun kucing-kucingan dengan satpam di tempat parkiran.

Ia mulai membagikan brosur kepada para pengunjung dengan penuh kewaspadaan. Ia membagi sandal itu menjadi paket kecil-kecil, sehingga untuk bergabung menjadi agen, cuma membutuhkan modal @ Rp 250 ribu. “Saya ingin mengubah pola pikir orang yang baru mau terjun ke dunia usaha, bahwa tidak butuh modal gede untuk memulainya,“ terangnya.

Kegigihannya itu menuai hasil, keesokan harinya, mulai ada banyak orang yang menelepon. Ia kemudian membuat janji ketemuan dengan calon agen. “Hari pertama kami mendapat uang Rp 1, 5 juta, hari berikutnya total yang kami terima sebesar Rp 2, 5 juta,“ jelas pria kelahiran Surabaya, 29 Maret 1979 ini dengan wajah sumringah.

Badai Pasti akan Berlalu

Pepatah bilang, “Hidup tak semulus jalan tol.” Sesudah terlepas dari keterbatasan produksi pada pesanan pertama, muncul masalah baru lagi. Dan masalah itu justru datang dari internal. Salah seorang karyawan mulai bimbang, bertahan kerja atau menjalankan usahanya. Padahal, ia memegang jabatan penting di sini.

Ia mengaku sempat berkonsultasi dengan seorang mentor Samurai. Ia ditanya, “Lebih besar mana, penghasilan dengan usaha sendiri, atau dengan bekerja di perusahaan ini?” Ia pun menjawab, “Lebih besar usaha sendiri, bahkan dua kali lipat.”

Sang mentor Samurai pun mengatakan, “Bodoh sekali kalau kamu masih bertahan di sini.” Sang guru menyarankan untuk keluar dan mengatakan bahwa 9 atau 10 pintu rezeki itu salah satunya adalah dengan berdagang. Ia pun memutuskan untuk keluar dari tempatnya bekerja, dan mengembalikan semua fasilitas yang ia dapatkan.

Tidak hanya itu, ada juga yang bilang kalau sandal IMUCU tak bakal laku, karena tidak nyaman dipakai. Ada juga sindiran dari kanan kiri, dan ada juga yang sinis melihatnya. Namun Fatchur tetap jalan, karena ia harus memberikan nafkah kepada keluarga. “Tapi saya sadar sekarang, bahwa yang memberi nafkah itu bukan saya, tapi Allah SWT,“ tuturnya.

Cobaan pada dasarnya adalah ujian dari Tuhan, untuk mengetahui siapa yang paling baik amalannya. Seperti anak sekolah, kalau mereka ingin naik kelas, maka mereka harus melewati ujian terlebih dahulu. “Semakin banyak cobaan yang datang, berarti saya akan naik kelas,“ katanya.

Menanggapi keberadaan sandal unik dengan merek dagang lain yang ada di pasaran, Fatchur mengaku sama sekali tidak mengganggu. Kenyataan itu justru menjadi tantangan tersendiri, untuk tetap menjaga dan meningkatkan kualitas produknya. Ia tidak menganggap mereka sebagai saingan, tapi sebagai teman seprofesi, yang sama-sama bergelut di usaha kreatif.

Bahkan dengan banyaknya saingan, omzetnya justru makin meningkat. Terus meningkat, hingga menembus angka 1 miliar per bulan. “Omzet kami malah naik dengan banyaknya produk serupa di pasaran,“ kata suami dari Dewi Eristy.

Dengan bijak ia mengatakan, meskipun sandal IMUCU “dibajak”, hal itu tidak ada masalah, toh mereka akhirnya mandiri. Mereka bisa kreatif dan menciptakan produknya sendiri. “Saya melihat karena kita yang mengawali, semoga kita mendapatkan limpahan rezeki, pahala, dan sebagainya.“ terangnya

Meskipun IMUCU baru hampir berumur 2 tahun, namun produknya sudah mampu menembus pasar internasional, seperti Malaysia, Australia, Jepang, dan New Zealand. “Semoga kami tetap bisa meningkatkan diri menjadi lebih baik. Mudah-mudahan usaha ini mendapat berkah dari Allah, dan menebar rahmat untuk umat,” harapnya.

Ia selalu memberikan “wejangan” kepada para karyawan di kantornya, “Sebaiknya jangan memberitahukan kepada teman sekantor kalau memiliki usaha sampingan. Hal itu untuk menghindari omongan yang tidak sehat, karena tidak semua orang itu suka dengan perilaku kita. Selain itu, jangan terpaku pada modal yang kita miliki. Kita harus mempersiapkan mental kita untuk berwirausaha.”

Ia juga meyakini bahwa orang Indonesia tidak akan maju, jika hanya menjadi seorang pegawai. Intinya, kita yang menciptakan peluang kerja. “Wirausaha itu bukan pelarian, ketika kita tidak bisa mendapatkan pekerjaan. Itu pandangan yang keliru,“ pungkasnya. soesilo