Makan terkadang tidak sekadar kenyang, tapi juga memanjakan lidah. Jangan heran, kalau wisata kuliner dengan segala keunikan dan keanekaragamannya, menjadi bisnis yang cukup menjanjikan.

Pada mulanya, di awal tahun 2004, Rahayu (53) mulai menggeluti usaha di bidang fashion. Tapi usaha itu tidak berlangsung lama. Pada tahun 2005, ia melangkah lebih jauh dengan membuka usaha Rumah Makan (RM) khas Bandung. Ide ini berasal dari kebiasaan suaminya yang suka makan di RM. Ciganea Purwakarta. Setiap pergi ke Jakarta, Hatta Yusuf (58), sang suami, selalu menyempatkan diri untuk menyantap menu khas Bandung yang ada di RM. Ciganea. “Bahkan bapak tidak pernah mau sarapan di rumah,“ kata Rahayu.

Akhirnya, Rahayu pun memberanikan diri untuk membuka usaha rumah makan. Dengan bersusah payah, tak mengenal rasa lelah dan putus asa, ia meminta izin kepada pemilik RM. Ciganea untuk bisa membuka Cabang di Bandung.

Sepupu Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsudin ini terus melakukan pendekatan supaya bisa mendapatkan izin membuka cabang. Tidak tanggung-tanggung, ketika pergi umrah, ia selalu berdoa untuk mendapatkan kemudahan dalam membuka rumah makan.

Walhasil, ia pun mendapatkan izin untuk membuka cabang. Namun masalah tak selesai sampai di situ. Ketika sudah menerima izin dan akan membuka cabang, ternyata di Bandung sudah ada yang mendirikan RM, dengan nama Ciganea.

Akhirnya, ia memutuskan membuka cabang di Jakarta. Tepatnya di jalan Sabang No. 2 Jakarta. Tempatnya cukup luas dan alhamdulillah selalu ramai dipenuhi oleh pengunjung. Usahanya pun berjalan lancar. hoki Rahayu sepertinya memang di usaha rumah makan.

Namun begitu, setelah berjalan dua tahun, masalah pun muncul. Ketika sedang ada di puncak kejayaannya, masa kontrak dengan si pemilik tempat tidak bisa diperpanjang. Ia berusaha menemui pemilik tempat, tapi hasilnya nihil. Bahkan dihubungi lewat telepon saja tidak bisa. “Waktu tinggal beberapa hari lagi, tapi saya belum mendapatkan tempat baru. Akhirnya, untuk sementara saya memakai gudang yang letaknya tidak jauh dari tempat sebelumnya,“ kenangnya.

Gudang tersebut bersebelahan dengan sebuah masjid. Oleh karena itu, ia tidak diperbolehkan masak di atas jam 11 siang. Dengan alasan asap akan masuk ke masjid, dan mengganggu para jamaah yang mau melakukan shalat Zhuhur.

Tapi ibu dari Hari (25) dan Dian Saputra (19) ini tidak kehilangan akal. Ketika pelanggan dan pesanan masuk di atas jam 11, ia berusaha menutup semua lubang yang ada di gudang tersebut, agar asap tidak masuk ke dalam masjid.

Ia tetap bersyukur bisa mendapatkan gudang untuk melanjutkan usahanya itu. Walaupun ia harus mendatangi pelanggan-pelanggannya untuk memberitahukan kalau rumah makan miliknya telah pindah untuk sementara.

Seiring berjalanya waktu, Rahayu akhirnya mendapatkan tempat baru yang lebih nyaman. Tempatnya terletak berada di Jalan Wahid Hasyim No.16 Jakarta Pusat. Ia menempatinya sejak 2007 sampai sekarang.

Sebelum sekokoh seperti sekarang, musibah datang lagi. Baru beberapa bulan ditempati, rumah makan yang dimilikinya ludes dimakan si jago merah. “Kami mengalami kebakaran dan semuanya ludes terbakar,“ kenangnya.

Peristiwa itu terjadi saat usaha rumah makan yang dimilikinya mulai dikenal kembali oleh pelanggan-pelanggan lama maupun baru. Ibu Rahayu tidak larut dalam kesedihan. Tak menunggu lama, ia langsung memperbaiki bangunan itu, dan bangkit kembali.

Rahayu berpikir kalau seandainya akan menutup rumah makan itu, bagaimana dengan nasib karyawannya. Mereka harus mencari pekerjaan baru, sementara sebagian karyawan itu sudah ada yang berkeluarga. “Saya cuma berpikir itu, kasihan mereka kalau harus mencari pekerjaan baru, belum tentu langsung mendapatkannya,“ tuturnya.

Dengan telaten dan penuh kesabaran, ia kembali membuka RM itu. Berlahan tapi pasti, RM itu berkibar kembali di kawasan Wahid Hasyim. Awalnya ia sebenarnya sudah memutuskan untuk membuka di daerah Bintaro. Tapi ternyata ia menemukan tempat yang diapit oleh banyak kantor. “Kalau buka di Bintaro saya harus memulainya dari bawah lagi, namun kalau di sini tinggal meneruskan saja, apalagi pelanggan sudah banyak,“ paparnya.

Sebelum memulai proses pemulihan usahanya, ia meminta bantuan sebuah konsultan. Selama kurang lebih 5 bulan, ia ditemani seorang konsultan. Terlebih setelah nama Ciganea sudah tidak ia gunakan lagi. Sejak kontrak di Jalan Sabang habis, ia memutuskan untuk tidak menggunakan nama Ciganea lagi.

Ia mengganti nama Ciganea dengan RM Kuliner Bandung. Sebelum mengganti nama, ia tetap meminta izin kepada RM. Ciganea, kalau ia akan mengganti nama usahanya dan berdiri sendiri. “Pemilik nama RM.Ciganea tidak keberatan, dan akhirnya saya memilih menggunakan nama yang sekarang. Selain itu, nama ini juga belum ada, baik di Bandung maupun di Jakarta,“ terangnya.

Buah dari Kesabaran

Dengan kesabaran dan keuletan dalam menghadapi setiap cobaan, semua itu berbuah manis. Saat ini, Rahayu telah memiliki banyak pelanggan, baik dari pesanan nasi kotak maupun pelanggan yang sengaja datang ke rumah makannya.

Setiap hari, RM Kuliner Bandung menerima pesanan nasi kotak sekitar 300-500 kotak. Harga per kotaknya Rp 35 ribu. Dengan demikian, untuk pesanan nasi kotak saja, total omzetnya Rp 10,5 juta-Rp 17,5 juta per hari. “Pelanggan kami berasal dari Telkomsel, Pertamina, Kantor-kantor pajak, Departemen Keuangan, dan lain-lain,“ katanya.

Dahulu, banyak kalangan artis dan pejabat penting sering menyambangi rumah makan yang berada tidak jauh dari stasiun kereta api Gondangdia ini. Namun, ia mengaku sekarang sudah berkurang, karena sebagian dari artis itu sudah membuka usaha RM sendiri.

“Setiap ada acara, biasanya mereka memesan makan dari sini, tapi sekarang sudah jarang,” ujarnya. RM Kuliner Bandung juga menyediakan menu khas Sumbawa yang merupakan daerah asal dari sang pemilik, yaitu Soto Sumbawa. Inilah menu kesukaan Pak Din, panggilan akrab Prof. Dr. Din Syamsudin.

Selain itu, ada juga ayam bakar taliwang, kalio, babalung, gurame asam manis, aneka pepes, nasi tutuk oncom, tumis pete jambal roti, dan ulukutek leunca. Ada juga nasi bakar dan nasi liwet, keciwis, serta masih banyak menu lain.

Dari menu-menu yang ada, setiap pelanggan yang sudah mencicipinya, mereka selalu datang kembali. Menurut sebagian pelanggan, sambal buatan Rahayu ini tiada duanya dan bisa membangkitkan selera makan.

Ditambah dengan pelayanannya yang sangat ramah, dan yang terpenting harga bisa terjangkau oleh seluruh kalangan masyarakat. Untuk peningkatan pelayanan, dalam waktu dekat RM ini akan memasang Wifi. “Dalam waktu dekat, RM ini juga akan dilengkapi dengan free-wifi,“ katanya.

“Dalam menjalankan usaha ini saya sangat bersyukur, karena keluarga mulai dari suami sampai anak-anak sangat mendukung. Selain itu, dukungan dari karyawan juga menjadi motivasi saya untuk terus menggeluti RM ini, walaupun banyak cobaan yang saya lewati. Itulah kunci keberhasilan saya dalam menjalankan usaha ini,“ pungkasnya.