Terlihat para santri sedang sibuk dengan kegiatan yang berbeda-beda. Pramuka, PMR, Cimande, pidato bahasa arab dll. Apalagi kegiatan yang ada di UQI, dan masih banyak kegiatan lain, seperti apa, kita intup yuks?

Pondok Pesantren Ummul Quro Al-Islami (UQI) merupakan lembaga pendidikan dengan menggunakan sistem asrama. Mulai dari pendiri (kiayi), dewan guru dan para santri belajar, dan bermukim di dalam pesantren dengan nuansa kekeluargaan. Seluruh insan pesantren dapat berhubungan dan berkomunikasi langsung selama 24jam. Baik antara guru dengan kiayi, murid dengan guru, dan sebaliknya.

Pondok yang berada di daerah Bogor ini, didirikan pada 1 Muharram 1414H/21 Juni 1993. Pada kesempatan yang sama, juga diletakkan batu pertama. Proses pembangunan pesantern ini kurang lebih memakan waktu satu tahun. Sementara tanggal dimulainya pengajaran pada 10 Juli 1994 M. “ Dari sana kami mulai mengemban tugas mulia melaksanakan pendidikan dan pengajaran dengan bermodalkan “Bismillah dan Lillahi ta’allah”. Bersandar dan hanya memohon pertolngan dari Allah semata, “terang Kh. Helmy Abdul Mubin, Lc, pendiri pesantren.

Sementara untuk system pendidikan di sini dimulai pendidikan tingkat pertama dan tingkat menengah yang berbasis dan berbentuk Pondok Pesantren. Masa pendidikan selama enam tahun bagu yang lulusan (SD/MI), empat tahun untuk tamatan SLTP/MTs dan SLTA/MA. Jkia dilihat dari jenjang pendidikan, Ummul Quro ini identik dengan pendidikan SLTP/MTs atau SLTA/MA.

Namun ada beberapa perbedaan yang mendasar antara UQI dengan lembaga-lembaga lain. misalnya, pertama, selain nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, UQI juga berlandasan dan mengacu pada nilai-nilai kepesantrenan dan kejuangan. Kedua, seluruh santri UQI wajib mukim (berdiam) di dalam pondok dalam suasana yang Islami, Tarbawi, Ma’hadi. Demikian juga guru-guru UQI, semuanya mukim di dalampondok, kecuali sebagian kecil dari mereka, karena adanya kendala-kendala teknis.

Ketiga sejak dini, para santri UQI telah ditanamkan pengertian yang sebenarnya tentang tholabul ilmi menurut pandangan Islam. Terutama yang menyangkut motivasi atau niat dalam menuntut ilmu. keempat, pendidikan dan pembudayaan lebih dipentingkan dari sekedar pengajaran, sehingga keteladanan dan disiplin menjadi urat nadi kehidupan sehari-hari.

Proses pendidikan dan pengajaran berlangsung secara terencana, terus-menerus selama 24 jam. Dengan penekanan khusus pada upaya taffaquh fid-din (memperdalam pemahaman tentang agama). Yaitu dengan memberikan bekal-bekal dasar keulama’an/Kecendikiaan, kepemimpinan dan keguruan. Dalam rangka mencetak kader-kader mundzirul qoum (pemimpin umat).

Dan yang terpenting arah pendidikan UQI tidak semata-mata bersifat vertikal (untuk melanjutkan jenjang yang lebih tinggi). Tetapi juga mempersiapkan santri untuk bisa langsung terjun ke masyarakat dengan mengamalkan dan mengembangkan bekal-bekal dasar yang dimiliki. (karena itu tidak ada istilah “ngangggur” bagi alumni UQI.

Setelah menyelesaikan studinya di kelas VI (enam) dan sebelum melanjutkan kejenjang pendidikan tinggi, para alumni wajib mengabdi selama 1 tahun di lembaga-lembaga pendidikan yang ditunjuk atau dipilih, dengan observasi dan evaluasi yang terus menerus dari Biro Pembinaan dan Pengembangan Alumni Pondok Pesantren Ummul Quro Al-Islami.

Pendidikan UQI

Dalam pelaksanaanya program pendidikan ini tidak bisa dipisahkan satu sama lainya. Karena ia terprogram menjadi kesatuan yang utuh dan merupakan unlimited curriculum yang sulit dipilah pilih. Adapun Program Pendidikan dikemas sebagai berikut Intra-kurikuler. Dikemas dalam bentuk GBPP (garis-garis besar program pengajaran) yang merupakan perpaduan antara Kurikulum Nasional yang berlaku dan Kurikulum yang biasa berlaku di pondok-pondok pesantren pada umumnya.

Dilaksanakan di pagi hari oleh seluruh guru, dibawah tanggung jawab dan pengawasan bagian Pendidikan dan Pengajaraan. GBPP tersebut meliputi Ulum Tanziliyah, yaitu ilmu-ilmu yang bersumber langsung dari wahyu (dari Allah dan Rasul-Nya). (Sejak kela II (dua) seluruh mata pelajaran disampaikan dengan pengantar bahasa Arab. Pelajaran yang memakai pengantar bahasa Inggris antara lain : At-Tafsir wal Hadis dan tarik Islam).
Ulum Kauniyah dan Tathbiqiyah, yaitu ilmu-ilmu yang bersumber dari manusia, alam serta ilmu-ilmu terapan dan tekhnologi. (Untuk kedua jenis ilmu ini dipergunakan kurikulum yang bernuansa dan mengacu pada “Kurikulum Nasional” yang berlaku, dengan tambahan-tambahan mata pelajaran khusus berupa).

Selain intra-kullikuler juga ada pendidikan yang sifatnya Ko-Kurikuler. Dikemas dalam bentuk “Juklak Khusus” untuk guru-guru. Dilaksanakan diluar jam sekolah dibawah bimbingan guru-guru dan para pengurus. Kegiatan tersebut meliputi Ibadah Amaliyah sehari-hari.  Shalat Jama;ah Lima Waktu (Wajib). Shalat Tahajjud setiap malam (Wajib). Shalat-shalat Rawatib (Wajib). Shalat-shalat Nawafil (Sangat Dianjurkan).
Pembacaan Ratib Al-Athos dan Al-Hadad (Wajib). Puasa Senin-Kamis (Sangat Dianjurkan). Puasa Arofah dan Asyuro (Wajib). Membaca dan Tadabur al-Qur’an (Wajib). Dzikir, Wirid, Shalawat dan Do’a (Wajib). Selain kegiatan tersebut ada juga pengembangan bahasa  (Wajib diikuti oleh seluruh santri). Pembinaan dan Pengembangan Tiga Bahasa (santri diwajibkan berbahasa Arab satu minggu dan bahasa Inggris satu minggu).

Selain itu ada pemberiaan Mufrodat (kosa kata) Arab-Inggris setiap hari, dari hari Senin-Jum’at). Muhadasah (percakapan berbahasa Arab). Broadcasting (siaran dalam bahasa Arab-Inggris). Muhadoroh (latihan pidato 3 bahasa). Praktikum Lab. (khusus santri tingkat Aliyah). Diskusi, Seminar, Simposium, dan bedah buku, penerbitan buletin bulanan.

Tidak hanya sebatas itu saja kegiatan yang ada di UQI. Masih banyak kegiatan-kegiatan yang lain. Praktek dan Bimbingan, Praktek Adab Sopan Santun/Etiket. Praktek Mengajar/Keguruan Praktek Dakwah Kemasyarakatan (bil-Lisan wal-Hal). Juga ada ekstra kurikuler yang dikemas dalam bentuk Garis-garis Besar Program Organisasi Santri (GBPO). Dilaksanakan sebagai “sunnah atau Tradisi” (bukan dalam bentuk peraturan-peraturan tertulis)
Kegiatan tersebut dilaksanakan diluar sekolah oleh Organisasi Santri, yaitu ISPAUQI (putra) dan ISPIUQI (putri) dibawah bimbingan dan pengawasan bagian kesantrian.  Mulai dari latihan dan praktek berorganisasi (Kepemimpinan dan Manajemen). Kursus-kursus dan latihan-latihan (Pramuka, PMR, Keterampilan, Kesenian, Rabanna, Hadrah, Kesehatan, Olahraga, Perkoperasian, Kewiraswastaan, Bahasa, Jurnalistik, Retorika dan lain-lain).Dinamika Kelompok Santri (baik kelompok-kelompok wajib, ataupun kelompok-kelompok minat).

 

Sang Pendiri

KH. Helmy Abdul Mubin, Lc dilahirkan pada 23 Maret 1956 di Madura, Jawa Timur. Pengasuh Pondok Pesantren Ummul Quro Al-Islami ini anak pertama dari empat bersaudara dari pasangan Bapak Abdul Mubin, dan Ibu Musyaroh. Setelah menyelesaikan studinya di SD Pragaan Sumenep, beliau pun memutuskan untuk melanjutkan studinya di Pondok Pesantren Modern Gontor.

Dengan kemandirian yang Ia miliki, berbekal dengan tekad yang kuat. Ia pergi ke Pondok Pesantren Gontor tanpa diantar dengan sang ayah dan sanak saudara. Dengan usia yang masih sangat kecil. Ia pergi untuk melanjutkan studinya di Gontor seorang diri. Sedih memang tapi tak ada pilihan lain, hanya kesabaran dan kebesaran hati lah yang membuat beliau mampu melewati dan menjalani suratan takdir yang telah ditentukan oleh yang Maha Kuasa.

Setelah menamatkan studinya di Pondok Pesanten gontor, Ia diangkat menjadi staf pengajar (ustadz) di Pondok Pesantren Gontor selama satu tahun. Setelah menyelesaikan masa pengabdian di Pondok Pesantrern Gontor selama satu tahun. Ia pun akhirnya memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya Madura. Disana sempat mengajar di Pondok Pesantren Al-Amin hanya tiga bulan saja. Setelah itu memutuskan untuk hijrah ke Ibu Kota Jakarta demi melanjutkan cita-citanya.

Seiring berjalannya waktu pada tahun 1994 merupakan awal mula berdirinya Pondok Pesantren yang di beri nama Ummul Quro Al-Islami. Awal mula berdirinya pondok ini hanya memiliki 27 murid dengan lima orang pengajar. Demi mewujudkan mimpi dan cita-citanya, Ia rela mendatangi dan mengetuk rumah-rumah para donator untuk mencari dana demi pembangunan pondok tercinta.

Cacian dan hinaan datang silih berganti tanpa henti, tapi beliau tetap berusaha untuk terus bertahan demi kemajuan dan pembangunan asrama serta fasilitas Pondok Pesantren yang baru saja berdiri. Semakin tahun, semakin bertambahnya umur pondok. Berkat doa dan usaha yang tanpa henti, sedikit demi sedikit beliau dapat membangun asrama, kelas, kantor layaknya seperti pondok-pondok lainnya. Susilowati