Jangan tunda-tunda waktu lagi untuk memulai usaha, langsung action saja. Jangan hanya punya mimpi, tapi wujudkan mimpi itu.

Menurut Ade Wahyudi (31) pengusaha kaos anak edukatif ini, jika kita akan memulai usaha yang harus kita lakukan adalah, jangan tunda-tunda waktu lagi, langsung action saja. Karena menurutnya besok atau nanti kita tidak akan pernah berani untuk pindah dari karyawan menjadi pengusaha.

Kalau sekarang, besok atau nanti tidak ada jaminan apapun terhadap hidup kita, terus kanapa menunggu nanti, Kenapa menunggu besok, kenapa tidak sekarang saja. karena yang membedakan sekarang, besok atau nanti adalah hanya waktu dan waktu adalah sesuatu yang tidak bisa kita beli dengan apapun, jadi lakukanlah sekarang, jangan menunggu besok atau nanti.

Perjalanan Menuju Titik Puncak

Awal pendirian usaha dimulai pada tahun 2007 kita membuka toko busana muslim di salah satu mall diluar kota tepatnya di sukabumi. Adapun alasan pemilihan luar kota didasari banyaknya persaingan di kota Bandung. Bagi pedagang pemula sepertinya akan sangat berat untuk bersaing dengan pedagang-pedangang besar yang mempunyai modal besar, “menurut Pemilik Merk naylakidz ‘kaos anak edukatif’

Adapun alasan untuk menjual baju anak, bapak tiga anak ini melihat hampir 80% kostumer, selalu membawa anaknya saat belanja. Bisa dibilang juga hampir 100% juga ketika mereka membawa anaknya berbelanja ke mall, mereka pasti mencari baju untuk anaknya. Dari analisa tersebut pria 31 tahun ini, ia merasa jualan baju anak sangat menjanjikan. Maka sambil tetap membuka toko busana muslim untuk dewasa, ia pun mencoba peruntungan memproduksi buat anak yang diberi nama naylakidz.

Merk itu sendiri diambil dari nama anak pertama Nayla, ia pun dijadikan model dalam setiap produk yang dibuatnya. Awal berdirinya naylakidz ‘kaos anak edukatif, diawali dari sebuah keprihatinan dimana produk-produk clothing/distro yang ada di bandung khususnya, yang memproduksi baju anak-anak, jarang ditemukan bahkan tidak ada. “Yang ada hanyalah design-design untuk remaja atau orang dewasa yang dibuat ukuran kecil, “paparnya

Ia pun memberikan contoh, banyak anak-anak kita yang memakai baju roling stone, beatles, mix jagger, Michael Jackson, atau kata-kata narsis  yang dalam pandangannya, hal itu tidaklah mendidik. Melihat dari fenomena itulah Ade dan Istri menggagas untuk memproduksi baju anak yang mempunyai unsur edukatif. Anak tidak hanya bisa tampil fashionable tetapi juga mempunyai unsur edukatif.

Pada saat mendirikan naylakidz ‘kaos anak edukatif’, ia tidak ada ketakutan dan kekhawatiran akan bangkrut, tidak laku, atau apapun. Karena kondisi tersebut sudah sempat ia alami. Anggota Tangan Di Atas (TDA Bandung) ini mengaku sudah beberapa kali mengalami bangkrut, gagal, rugi dll, sehingga mentalnya sudah semakin kuat menghadapi kemungkinan terburuk.

Ia pun makin memantapkan untuk meneruskan usahanya ini, karena ia juga mendapatkan dukungan dari keluarga. Juga komunitas lainnya seperti BEF (Bandung Enterpreneur Forum), IBF (Indonesian Bisnis Forum), kelompok MM mastermind Merdeka, yang merupakan kawah candradimuka dan wadah yang selama ini mendukungnya. “saya selalu mencoba mencari solusi dari setiap masalah yang dihadapi sehingga segala kekhawatiran itu jauh dari pikiran saya, “tegasnya.

Pemasaran Produk

Seperti halnya produk yang lainya, naylakidz ‘kaos anak edukatif’, ini pun memasarkan produknya dengan cara membuka keagenan. Dimana ia bagi menjadi dua macam yaitu,  distributor utama dan agen atau reseller yang masing-masing mempunyai aturan tersendiri.

Sistem keagenan yang dibuat sangatlah sederhana, dan tidak membebani calon agen. Dimana untuk agen cukup belanja produk senilai minimal Rp. 500.000,- dan mendapatkan discount sampai 30%. Serta jaminan tukar barang sampai 100 hari,  sehingga bagi yang masih takut atau mau coba-coba berbisnis tidak perlu khawatir gagal ataupun rugi, karena nyaris tanpa resiko.

Untuk distributor cukup belanja senilai 2, 5 juta dan mendapatkan hak proteksi area, dimana satu kota hanya ada 1 atau 2 distributor dan berhak melayani agen. Kemudian mendapatkan discount produk 40%, Serta garansi tukar barang, lagi-lagi inipun nyaris tanpa resiko. Untuk memudahkan bagi siapapun yang akan menjadi agen maupun distributor, ia pun memudahkannya dengan membuat sebuah website http://www.naylakidz.com

Sementara untuk penjualan setiap bulan menurut suami Cucu Hasanah (33) ini, rata-rata sekitar 1000-1500pcs barang keluar, dalam sehari berarti sekitar 40-50 pcs/hari. Omset dalam satu bulan sekitar 40-50 juta/ bulan. Sedangkan modal yang diperlukan untuk memulai usaha ini, saat itu ia merogoh kocek sekitar 10 juta.

Namun untuk mencapai omset sekian tidak lah semudah membalikkan telapak tangan. Ia juga mengalami hambatan. Mulai dari SDM, keterbatasan modal, sulitnya bahan baku, pemasaran dan lain sebagainya. “Namun itu semua tidak menjadikan alasan baginya untuk mengeluh,  karena pengusaha punya 1001 cara untuk berkelit dari keadaan, “tuturnya sambil tertawa.

Sedangkan untuk mengembangkan usaha ini, ia tidak membuka cabang di tempat lain. Namun ia membuka keagenan di seluruh Indonesia. Sehingga seringkali agen-agennya saja yang membuka cabang di tempat lain. Sementara ia hanya fokus produksi dan riset produk serta melayani agen, karena produknya tidak melayani penjualan retail.

Jiwa Wirausaha

Pada saat membuka toko busana muslim yang pertama ia masih bekerja sebagai salah satu staff marketing di sebuah perusahaan farmasi multinasional dari perancis. Ia bekerja di perusahaan tersebut selama 5 tahun. Pada perkembangan selanjutnya ternyata hidup mendua menjadi karyawan dan pengusaha tidaklah menyenangkan. Semuanya dilakukan setengah-setengah, dimana bekerja menjadi tidak fokus.

Padahal ia sudah berusaha untuk focus pada pekerjaanya, namun yang terjadi ia tetap tidak bisa focus. Karena ketika usaha sudah semakin besar maka dituntut waktu lebih banyak untuk konsentrasi mengembangkan produk dan meluaskan. Sementara waktunya tidak sebanyak itu, karena masih harus berbagi dengan urusan kantor. Setelah merasa kewalahan ia pun pada awal 2011 memutuskan untuk berhenti bekerja.

Pertimbangan bahwa sudah tidak bisa lagi menjaga amanah yang diberikan oleh perusahaan,  dan saatnya fokus untuk mengembangkan usaha yang sudah 3 tahun lebih kita rintis. Dari dulu semenjak kuliah cita-citanya memang menjadi pengusaha. Semenjak kuliah sudah mulai bisnis kecil-kecilan, jualan baju, dan mengerjakan proyek hasilnya kuliah agak lama sampai 6 tahun baru lulus, itu pun karena dipaksa lulus karena ada baying-bayang bakal di DO dari kampus, “kenangnya

Sejak tahun 2000 semua mata kuliah sebenarnya sudah habis tinggal TA (tugas Akhir), tapi terbengkalai karena sibuk mengerjakan proyek. Karena ia kuliah di teknik planologi (teknik perencanaan kota) di salah satu PTS di Bandung. Sejak semester 6 ia sudah mulai ikut proyek-proyek perencanaan kota/tata ruang bersama para senior dalam rangka survive dan bertahan hidup.

“karena saya sadar diri kalau orang tua saya bukanlah orang kaya, sehingga saya harus survive membiayai kuliah sendiri. Seteleh dipaksa haru lulus pun saya melanjutkan aktifitas sebagai team konsultan perencanaan kota / tata sampai tahun 2004”

Akhirnya pada awal 2005 ia memutuskan untuk berhenti mengerjakan proyek, karena alasan idealism. Dimana dunia proyek sudah tidak sesuai dengan hati nurani, karena banyak penyelewengan disana – sini. Ia pun berhenti dan mencoba membuka usaha, pada saat yang sama berbekal tabungan yang ada, ia diajak seorang teman mengajak bisnis di sektor future market, dengan menjanjikan keuntungan yang tinggi.

Ia pun mencobanya, namun dewi fortuna belum berpihak padanya, ia rugi dan meninggalkan hutang cukup besar pada saat itu. Dalam kondisi ini, ia pun tidak punya pilihan apapun untuk bertahan hidup selain bekerja untuk bertahan hidup dan sambil sedikit demi sdikit mencicil hutang-hutang yang ada.

“Seteleh beberapa tahun bekerja semangat wirausaha saya muncul kembali dan akhirnya mencoba terus berusaha. Mulai mencoba berbagai macam usaha dari MLM, MLM pulsa, budidaya udang air tawar, pemasaran tauco sampai ketemu jenis usaha seperti sekarang, “pungkasnya dengan sumringah.