Ketika nalar tak jernih, ‘tamparan’ seorang sahabat mungkin terasa menyakitkan. Tapi setelah nalar jernih, barulah sadar bahwa ‘tamparan’ itu sebenarnya penuh kasih.

 

Belum lama ini ada kisah dari dua orang yang sudah menjalin persahabatan (Ani dan Ana) walau belum begitu lama dan bisa dibilang baru seumur jagung, namun persahabatan itu pada awalnya berjalan mulus dan adem ayem nyaris tanpa masalah, kalaupun ada mereka langsung menyelesaikannya. Canda, tawa, susah, sedih, selalu mereka lewati berdua. Namun seketika persahabatan itu luluh lanta.

 

entah bermula dari mana permasalah itu timbul, masing-masing dari mereka menganggap dirinya lah yang menjadi korban dari permasalahan yang timbul. Ani merasa kalau semua permasalah yang timbul itu berasal dari Ana. Ani merasa tidak tenang hidupnya setelah mengenal Ana. Mendengar hal itu Ana pun sempat merasa kesal. seketika Ana terdiam dan tanpa disadari air matanya menetes. dan terus merenungi kata-kata Ani.

 

Ana merasa ia sedang mendapatkan “tamparan dari sahabat”, ia berusaha untuk tidak bisa mengedepan egonya kali ini. karena ia berpikir ketika Ani sedang marah dan dilayani dengan kemarahan, suasana akan menjadi semakin runyam. Setelah mendapatkan “tamparan” itu Ana pergi ke sebuah pantai dan menuliskan sesuatu di atas pasir “HARI INI ANI SUDAH MENAMPARKU”, salah satu temen deket Ana yang lain menanyakan hal itu, kenapa setelah kawan kamu “menampar” kamu menulisnya di pasir?

 

Ana tersenyum dan menjawab, “Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus untuk menghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin, misalnya kebaikan-kebaikan sabahat kita.

 

walhasil “tamparan” Ani ke Ana membuat Ana lebih bisa mengendalikan sebuah emosi dan sikap egonya yang bercongkol dalam dirinya selama ini. dari sana pula Ana bisa lebih berhati-hati menjaga sikap dengan orang-orang di sekililingnya, karena tidak semua orang bisa menerima sikapnya. selain itu juga dalam sekejap Ana sudah bisa melupakan “tamparan” itu, walau mungkin Ani masih menyimpan rasa kesal dalam dirinya, yang mungkin juga sudah tidak mau berteman lagi dengan Ana.

 

Sebuah sakit hati lebih perkasa merusak, dibanding dengan jasa dan kebaikan. Mungkin ini bagian dari sifat bawaan diri kita semua. Karena itu, seseorang pernah memberitahu kepada PENULIS apa yang harus dilakukan ketika disakit hati. Beliau mengatakan ketika sakit hati yang paling penting adalah melihat apakah memang orang yang menyakiti hati kita itu tidak kita sakiti terlebih dahulu.

 

ya intinya kita harus bisa melihat apa yang kita terima saat ini. mungkin disadari atau tidak disadari

Bisa jadi sakit hati karena kesalahan kita sendiri karena salah dalam menafsirkan perkataan atau perbuatan teman kita. Bisa jadi kita tersinggung oleh perkataan sahabat kita yang dimaksudnya sebagai gurauan atau candaan.

 

Karena itu seorang guru telah mengajarkan untuk ‘menyerahkan’ sakit itu kepada TUHAN -yang begitu jelas dan pasti mengetahui bagaimana sakit hati kita- dengan membaca doa, “Ya Allah, balaslah kebaikan-kebaikan siapapun yang telah diberikannya kepada kami dengan balasan kebaikan yang jauh dari yang mereka bayangkan. Ya Allah, ampuni kesalahan-kesalahan saudara-saudara kami yang pernah menyakiti hati kami.” Amin…..

 

Dan Rasulullah pernah berkata, “Tiga hal di antara akhlak ahli surga adalah memaafkan orang yang telah menganiayamu, memberi kepada orang yang mengharamkanmu, dan berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu”.

 

MARILAH KITA BERSAMA-SAMA BELAJAR MENATA HATI DAN JIWA UNTUK MENUJU KESUCIAN DEMI MERAIH RIDHO ILLAHI