Category: Dunia Pesantren


Melalui pendidikan pesantren, anak-anak akan memiliki keseimbangan dalam memahami ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum. Bagaimana Fathan Mubina mewujudkan keseimbangan itu?

Berawal dari sebuah pengajian rutin bulanan dan pelatihan keagamaan setiap bulan Ramadhan yang diprakarsai oleh Bapak Drs. H. Paisal Kamal (Pendiri) yang berada ditempat kediaman beliau di Jalan Otista Raya No. 448/449 Cawang I, Jakarta Timur. Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren (Ponpes) Fathan Mubina ini berdiri. Ponpes ini bernaung di bawah Yayasan Pembangunan Umat Fathan Mubina yang didirikan pada tanggal 31 Mei 1986.

Kegiatan pengajian itu dianggap kurang efektif. Karena pembinaan pendidikan hanya dilakukan sebulan sekali. Dari sanalah timbul gagasan untuk mendirikan sebuah pondok pesantren modern. Sebagai langkah awal, dicari lokasi yang cocok untuk lingkungan pondok pesantren.  Setelah melalui perjalanan panjang pencarian lokasi, pada tahun 1985, atas petunjuk Allah SWT jualah di temukan lokasi yang dianggap cukup strategis untuk pendidikan.

Yaitu di wilayah kabupaten Bogor, tepatnya di Jalan Raya Tapos No. 23 A, Ciawi. Luas tahan bangunan ini kurang lebih 10.000 m2. Dengan melalui proses kepemilikan dan perizinan penggunaan lokasi, mulailah dibangun beberapa gedung sederhana semi permanen untuk sementara. Dengan harapan jika telah memperoleh dana yang memadai akan dibangun gedung yang permanen.

Pada tahun 1985 setelah selesai kepengurusan perpindahan hak milik, dibangun 5 ruang lokal yang cukup sederhana. Untuk dipergunakan sebagai lokal Raudhatul Athfal (Taman Kanak-kanak Islam). Namun hanya bertahan kurang lebih 1 tahun, karena minat masyarakat sekitar wilayah saat itu terhadap taman kanak-kanak masih kurang.

Pada tahun ajaran baru 1986-1987, Fathan Mubina memulai membuka kegiatan belajar mengajar (KBM). kBM dimulai dari Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Pada saat itu terjadi persangian pendidikan dengan sekolah umum. Namun hal itu tidak menyurutkan langkah dalam membangun visi membangun Insan Cendekia yang berakhlak mulia. Walhasil pada tahun ajaran 1989-1990, lembaga Pondok Pesantren Fathan Mubina mulai aktif.

Walaupun persangin terjadi, namun pihak pesantren tidak putus asa. Langkah untuk memperkenalkan pesantren ke masyarakat terus dilakukan. Karena kami ingin memberikan pemahaman kepada masyarakat, kalau madrasah itu merupakan tempat yang tepat untuk pendidikan putra-putrinya.

Melalui pendidikan di madrasah dengan nuansa kepesantrenan, para siswa lebih memiliki keseimbangan dalam memahami ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum. Seperti Matematika, IPA, ekonomi dan lain sebagainya. Dalam persepsi mereka, di madrasah hanya dibekali ilmu pengetahuan agama saja, sehingga mereka khawatir akan masa depan putra putrinya dalam mencari pekerjaan.

Setelah perjalan panjang yang telah diselenggaran, hal ini membuka kesadaran kepada pihak pesantren untuk merubah pola pendidikan dan model yang lebih prospektif dan futuristik. Pada akhirnya, awal tahun 2003, tebersit niat akan membuka kembali pondok pesantren modern.  Pada  tanggal 3 Maret 2003, berdirilah Pondok Pesantren Modern Fathan Mubina.

Boarding School

Semakin banyak masyarakat untk memberikan pendidikan melalui pesantren, pada tahun ajaran 2004-2005, Yayasan Pembangunan Umat Fathan Mubina membuka pola pendidikan sistem pesantren (boarding school). Dengan harapan para siswa-siswi atau santri dapat dididik secara optimal. Menfokuskan pada keunggulan komparatif di bidang bahasa Arab dan Inggris, Matematika dan Tahfizh al-Qur`an.

Pengalaman satu tahun dengan hasil yang patut disyukuri, membuat kami lebih berbesar hati. Sambutan masyarakat pun juga meningkat. Ini terbukti dengan penerimaan pendaftaran santri yang terus meningkat sehingga mencapai ± 282 santri pada tahun pelajaran 2007/2008. Dalam praktiknya pun, diterapkan pendidikan dan pembinaan terpisah antara putra dan putri, baik asrama maupun ruang belajarnya.

Pada umumnya, pendidikan sistem pesantren terdiri dari santri yang berasal jauh dari lokasi pondok pesantren tersebut, tanpa mengurangi pelayanan kami kepada masyarakat sekitar, kami tetap mempertahankan dan mengembangkan sistem lama yaitu pulang pergi bagi masyarakat di sekitar lokasi pondok pesantren Fathan Mubina yang tidak mau tinggal di asrama.

Saat ini sekitar 90 % santri berasal dari luar kecamatan Ciawi. Mereka berasal dari pelbagai wilayah di Indonesia. Mulai dari Jadebotabek maupun luar Jawa seperti Sumatra dan Sulawesi. Sementara siswa pulang pergi (non Asrama) hampir 100 persen adalah putra-putri masyarakat sekitar kecamatan Ciawi, Bogor.

Dalam menberikan pelayan pendidikan ini, pihak pesantren mempunyai prinsip kami “in tanshuruullah yanshuruukum” (jika kalian menolong agama Allah, maka Dia akan menolong kalian) dan wa man yattaqillaha yaj’al lahuu makhrajaa wa yarzuqhuu min haitsu laa yahtasib. Selain itu juga ada target yang hendak dicapai dalam perjalanan memberikan pendidikan kepada santri.

Santri diharapkan memiliki pemahaman yang lurus tentang aqidah Islamiyah dan tidak terjerumus kepada kesesatan aqidah. Terbiasa dengan perilaku yang Islami dan sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an dan Sunnah. Mampu memahami bahasa Arab dan Inggris baik dalam berkomunikasi maupun dalam menggali ilmu pengetahuan agama dan umum yang sumbernya menggunakan bahasa Arab dan Inggris.

Kemudian Dapat berinteraksi dengan siapapun dan dari manapun menggunakan kedua bahasa internasional tersebut. Mampu mengikuti perkembangan teknologi terkini bahkan diharapkan dapat menciptakan inovasi teknologi baru yang bermanfaat untuk orang banyak. Eksis di tengah-tengah masyarakat dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan baik sebagai ulama maupun sebagai ilmuwan.

Santrimampu mengikuti perkembangan zaman, terutama dalam bidang IPTEK dan memilik imtaq. Namun mereka juga diharapkan tidak menyalahgunakan kemampuan yang dimilikinya untuk melakukan kezaliman atau memerugikan orang lain. Mengetahui, memahami dan menghayati norma-norma agama dan budaya.

Mampu membentengi diri dari arus kemaksiatan dan pergaulan yang tidak Islami. Mampu membedakan antara haq dan bathil. Yang tidak kalah pentingnya adalah  mereka dapat berperan aktif dan berani berpartisipasi dalam menyerukan kebajikan dan menentang kemungkaran.

Visi dan Misi

Dalam mendirikan ponpes ini, visi terpenting yang hendak dicapai insane yang unggul dalam berbagai hal. Seperti pencapaian SKBM (Standar Ketuntasan Belajar Minimal). Persaingan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Aplikasi, aktivitas & prestasi keagamaan berdasarkan al-Qur’an dan Hadits. Prestasi olah raga dan prestasi kesenian. Mendapat kepercayaan dari masyarakat.

Sementara misinya, mempertinggi keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Menumbuhkan rasa kecintaan terhadap Al-Qur’an dengan program hafalan 2 juz/tahun. Mengaplikasikan ajaran al-Qur’an dalam aktivitas sehari-hari. Melestarikan sunnah Rasulullah, menghiasi Kepribadian dengan akhlak mulia. Mendalami dan Membiasakan penggunaan bahasa Arab dan Inggris dalam percakapan sehari-hari.

Kemudian meningkatkan pengalaman belajar peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Meningkatkan ketrampilan seni dan budaya. Mengembangkan diri dan terampil, sejalan dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menonjolkan sekolah yang nyaman sebagai Wawasan Wiyatamandala dalam menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan baik ke dalam maupun ke luar. Susilowati

Iklan

Terlihat para santri sedang sibuk dengan kegiatan yang berbeda-beda. Pramuka, PMR, Cimande, pidato bahasa arab dll. Apalagi kegiatan yang ada di UQI, dan masih banyak kegiatan lain, seperti apa, kita intup yuks?

Pondok Pesantren Ummul Quro Al-Islami (UQI) merupakan lembaga pendidikan dengan menggunakan sistem asrama. Mulai dari pendiri (kiayi), dewan guru dan para santri belajar, dan bermukim di dalam pesantren dengan nuansa kekeluargaan. Seluruh insan pesantren dapat berhubungan dan berkomunikasi langsung selama 24jam. Baik antara guru dengan kiayi, murid dengan guru, dan sebaliknya.

Pondok yang berada di daerah Bogor ini, didirikan pada 1 Muharram 1414H/21 Juni 1993. Pada kesempatan yang sama, juga diletakkan batu pertama. Proses pembangunan pesantern ini kurang lebih memakan waktu satu tahun. Sementara tanggal dimulainya pengajaran pada 10 Juli 1994 M. “ Dari sana kami mulai mengemban tugas mulia melaksanakan pendidikan dan pengajaran dengan bermodalkan “Bismillah dan Lillahi ta’allah”. Bersandar dan hanya memohon pertolngan dari Allah semata, “terang Kh. Helmy Abdul Mubin, Lc, pendiri pesantren.

Sementara untuk system pendidikan di sini dimulai pendidikan tingkat pertama dan tingkat menengah yang berbasis dan berbentuk Pondok Pesantren. Masa pendidikan selama enam tahun bagu yang lulusan (SD/MI), empat tahun untuk tamatan SLTP/MTs dan SLTA/MA. Jkia dilihat dari jenjang pendidikan, Ummul Quro ini identik dengan pendidikan SLTP/MTs atau SLTA/MA.

Namun ada beberapa perbedaan yang mendasar antara UQI dengan lembaga-lembaga lain. misalnya, pertama, selain nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, UQI juga berlandasan dan mengacu pada nilai-nilai kepesantrenan dan kejuangan. Kedua, seluruh santri UQI wajib mukim (berdiam) di dalam pondok dalam suasana yang Islami, Tarbawi, Ma’hadi. Demikian juga guru-guru UQI, semuanya mukim di dalampondok, kecuali sebagian kecil dari mereka, karena adanya kendala-kendala teknis.

Ketiga sejak dini, para santri UQI telah ditanamkan pengertian yang sebenarnya tentang tholabul ilmi menurut pandangan Islam. Terutama yang menyangkut motivasi atau niat dalam menuntut ilmu. keempat, pendidikan dan pembudayaan lebih dipentingkan dari sekedar pengajaran, sehingga keteladanan dan disiplin menjadi urat nadi kehidupan sehari-hari.

Proses pendidikan dan pengajaran berlangsung secara terencana, terus-menerus selama 24 jam. Dengan penekanan khusus pada upaya taffaquh fid-din (memperdalam pemahaman tentang agama). Yaitu dengan memberikan bekal-bekal dasar keulama’an/Kecendikiaan, kepemimpinan dan keguruan. Dalam rangka mencetak kader-kader mundzirul qoum (pemimpin umat).

Dan yang terpenting arah pendidikan UQI tidak semata-mata bersifat vertikal (untuk melanjutkan jenjang yang lebih tinggi). Tetapi juga mempersiapkan santri untuk bisa langsung terjun ke masyarakat dengan mengamalkan dan mengembangkan bekal-bekal dasar yang dimiliki. (karena itu tidak ada istilah “ngangggur” bagi alumni UQI.

Setelah menyelesaikan studinya di kelas VI (enam) dan sebelum melanjutkan kejenjang pendidikan tinggi, para alumni wajib mengabdi selama 1 tahun di lembaga-lembaga pendidikan yang ditunjuk atau dipilih, dengan observasi dan evaluasi yang terus menerus dari Biro Pembinaan dan Pengembangan Alumni Pondok Pesantren Ummul Quro Al-Islami.

Pendidikan UQI

Dalam pelaksanaanya program pendidikan ini tidak bisa dipisahkan satu sama lainya. Karena ia terprogram menjadi kesatuan yang utuh dan merupakan unlimited curriculum yang sulit dipilah pilih. Adapun Program Pendidikan dikemas sebagai berikut Intra-kurikuler. Dikemas dalam bentuk GBPP (garis-garis besar program pengajaran) yang merupakan perpaduan antara Kurikulum Nasional yang berlaku dan Kurikulum yang biasa berlaku di pondok-pondok pesantren pada umumnya.

Dilaksanakan di pagi hari oleh seluruh guru, dibawah tanggung jawab dan pengawasan bagian Pendidikan dan Pengajaraan. GBPP tersebut meliputi Ulum Tanziliyah, yaitu ilmu-ilmu yang bersumber langsung dari wahyu (dari Allah dan Rasul-Nya). (Sejak kela II (dua) seluruh mata pelajaran disampaikan dengan pengantar bahasa Arab. Pelajaran yang memakai pengantar bahasa Inggris antara lain : At-Tafsir wal Hadis dan tarik Islam).
Ulum Kauniyah dan Tathbiqiyah, yaitu ilmu-ilmu yang bersumber dari manusia, alam serta ilmu-ilmu terapan dan tekhnologi. (Untuk kedua jenis ilmu ini dipergunakan kurikulum yang bernuansa dan mengacu pada “Kurikulum Nasional” yang berlaku, dengan tambahan-tambahan mata pelajaran khusus berupa).

Selain intra-kullikuler juga ada pendidikan yang sifatnya Ko-Kurikuler. Dikemas dalam bentuk “Juklak Khusus” untuk guru-guru. Dilaksanakan diluar jam sekolah dibawah bimbingan guru-guru dan para pengurus. Kegiatan tersebut meliputi Ibadah Amaliyah sehari-hari.  Shalat Jama;ah Lima Waktu (Wajib). Shalat Tahajjud setiap malam (Wajib). Shalat-shalat Rawatib (Wajib). Shalat-shalat Nawafil (Sangat Dianjurkan).
Pembacaan Ratib Al-Athos dan Al-Hadad (Wajib). Puasa Senin-Kamis (Sangat Dianjurkan). Puasa Arofah dan Asyuro (Wajib). Membaca dan Tadabur al-Qur’an (Wajib). Dzikir, Wirid, Shalawat dan Do’a (Wajib). Selain kegiatan tersebut ada juga pengembangan bahasa  (Wajib diikuti oleh seluruh santri). Pembinaan dan Pengembangan Tiga Bahasa (santri diwajibkan berbahasa Arab satu minggu dan bahasa Inggris satu minggu).

Selain itu ada pemberiaan Mufrodat (kosa kata) Arab-Inggris setiap hari, dari hari Senin-Jum’at). Muhadasah (percakapan berbahasa Arab). Broadcasting (siaran dalam bahasa Arab-Inggris). Muhadoroh (latihan pidato 3 bahasa). Praktikum Lab. (khusus santri tingkat Aliyah). Diskusi, Seminar, Simposium, dan bedah buku, penerbitan buletin bulanan.

Tidak hanya sebatas itu saja kegiatan yang ada di UQI. Masih banyak kegiatan-kegiatan yang lain. Praktek dan Bimbingan, Praktek Adab Sopan Santun/Etiket. Praktek Mengajar/Keguruan Praktek Dakwah Kemasyarakatan (bil-Lisan wal-Hal). Juga ada ekstra kurikuler yang dikemas dalam bentuk Garis-garis Besar Program Organisasi Santri (GBPO). Dilaksanakan sebagai “sunnah atau Tradisi” (bukan dalam bentuk peraturan-peraturan tertulis)
Kegiatan tersebut dilaksanakan diluar sekolah oleh Organisasi Santri, yaitu ISPAUQI (putra) dan ISPIUQI (putri) dibawah bimbingan dan pengawasan bagian kesantrian.  Mulai dari latihan dan praktek berorganisasi (Kepemimpinan dan Manajemen). Kursus-kursus dan latihan-latihan (Pramuka, PMR, Keterampilan, Kesenian, Rabanna, Hadrah, Kesehatan, Olahraga, Perkoperasian, Kewiraswastaan, Bahasa, Jurnalistik, Retorika dan lain-lain).Dinamika Kelompok Santri (baik kelompok-kelompok wajib, ataupun kelompok-kelompok minat).

 

Sang Pendiri

KH. Helmy Abdul Mubin, Lc dilahirkan pada 23 Maret 1956 di Madura, Jawa Timur. Pengasuh Pondok Pesantren Ummul Quro Al-Islami ini anak pertama dari empat bersaudara dari pasangan Bapak Abdul Mubin, dan Ibu Musyaroh. Setelah menyelesaikan studinya di SD Pragaan Sumenep, beliau pun memutuskan untuk melanjutkan studinya di Pondok Pesantren Modern Gontor.

Dengan kemandirian yang Ia miliki, berbekal dengan tekad yang kuat. Ia pergi ke Pondok Pesantren Gontor tanpa diantar dengan sang ayah dan sanak saudara. Dengan usia yang masih sangat kecil. Ia pergi untuk melanjutkan studinya di Gontor seorang diri. Sedih memang tapi tak ada pilihan lain, hanya kesabaran dan kebesaran hati lah yang membuat beliau mampu melewati dan menjalani suratan takdir yang telah ditentukan oleh yang Maha Kuasa.

Setelah menamatkan studinya di Pondok Pesanten gontor, Ia diangkat menjadi staf pengajar (ustadz) di Pondok Pesantren Gontor selama satu tahun. Setelah menyelesaikan masa pengabdian di Pondok Pesantrern Gontor selama satu tahun. Ia pun akhirnya memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya Madura. Disana sempat mengajar di Pondok Pesantren Al-Amin hanya tiga bulan saja. Setelah itu memutuskan untuk hijrah ke Ibu Kota Jakarta demi melanjutkan cita-citanya.

Seiring berjalannya waktu pada tahun 1994 merupakan awal mula berdirinya Pondok Pesantren yang di beri nama Ummul Quro Al-Islami. Awal mula berdirinya pondok ini hanya memiliki 27 murid dengan lima orang pengajar. Demi mewujudkan mimpi dan cita-citanya, Ia rela mendatangi dan mengetuk rumah-rumah para donator untuk mencari dana demi pembangunan pondok tercinta.

Cacian dan hinaan datang silih berganti tanpa henti, tapi beliau tetap berusaha untuk terus bertahan demi kemajuan dan pembangunan asrama serta fasilitas Pondok Pesantren yang baru saja berdiri. Semakin tahun, semakin bertambahnya umur pondok. Berkat doa dan usaha yang tanpa henti, sedikit demi sedikit beliau dapat membangun asrama, kelas, kantor layaknya seperti pondok-pondok lainnya. Susilowati